Pasien Panti Rehabilitasi Ini Disiksa, Bagai Hidup Dalam Neraka

Pasien Panti Rehabilitasi Ini Disiksa, Bagai Hidup Dalam Neraka

Berita Pagi - Panti rehabilitasi Yayasan Kasih Anugerah Bangsa (YKAB) di Binjai, Sumatera Utara, memiliki aturan yang tidak manusiawi. Penganiayaan fisik hingga dipaksa untuk menghapalkan ayat-ayat suatu kitab menjadi "santapan" pasien sehari-hari, menempatkan mereka seperti hidup dalam neraka.

Yayasan Kasih Anugerah Bangsa mengklaim kegiatan operasionalnya sebagai panti rehabilitasi bagi pasien penyakit gangguan jiwa, cacat mental, pecandu narkoba, dan penyakit aneh lainnya. Siapa sangka, para pengelolanya yang menangani 130 pasien justru memperlakukan mereka bak binatang, hampir setiap hari selama berbulan-bulan lamanya.

Para pasien mereka mengaku kerap dipukuli dengan kayu, gagang sapu, mata dibalsem, tangan diborgol, kaki dirantai, dan sebagainya oleh pengelola panti. Bahkan, penyiksaan terhadap pasien langsung dimulai begitu mereka masuk panti dengan cara diborgol dan dirantai.

Aturan yang ada dibuat tidak manusiawi. Semisal, kewajiban pasien menghapal ayat-ayat dari sebuah kitab. Meski keyakinan pasien berbeda dengan kitab yang diberikan, pihak yayasan mewajibkanya. Bila pasien tidak menghapalkan, maka matanya akan diolesi balsem.

Bukan hanya itu, beberapa pasien juga mendapat siksaan yang menyebabkan cacat di bagian tubuhnya. Seorang pasien mengaku pinggulnya ditempeli air panas yang ditaruh di dalam botol hingga mengalami luka di perut bagian bawah.

 

Tidak tahan dengan penganiayaan tersebut, beberapa pasien pun melarikan diri. Mereka melaporkan penyiksaan yang diterimanya kepada pihak berwajib hingga penggerebekan pun dilakukan.

”Kita amankan tersangka dengan hasil laporan penganiayaan pasien rehabilitasi yang dikelolanya. Tersangka dalang pelaku semua penganiayaan terhadap para pasien rehabilitasi yang dianiaya oleh pekerja yayasan dengan cara memukuli pasien rehabilitasi dengan kayu, gagang sapu, mata dibalsem, air panas yang mendidih diletakkan ke dalam botol yang diselimuti ke perut korban,” terang Kapolres Binjai AKBP M Rendra Salipu saat melakukan penggerebekan.

Penggerebekan dilakukan oleh tim gabungan dari Pemkot Binjai, Polres Binjai, Kodim 0203/LKT, dan BNN Binjai di panti yang berlokasi di Jalan Letjen Jamin Ginting, Gang Bersama, Kelurahan Pujidadi, Kota Binjai, Sumatera Utara. Barang-barang bukti yang diamankan di antaranya rantai, gembok yang digunakan tersangka untuk mengikat kaki para pasien, gagang sapu, serta dua buah borgol.

Otak di balik penyiksaan tersebut adalah Sempurna Tarigan, pendeta sekaligus Pemilik Yayasan Kasih Anugerah Bangsa. Dia tidak dapat menunjukkan izin operasional panti rehabilitasi yang dipimpinnya saat penggerebekan terjadi. Bahkan, menurut Kepala Dinas Sosial Kota Binjai, Nani Sundari, izin Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yayasan tersebut sudah dicabut oleh Kementerian Sosial sejak sejak Februari 2016 karena tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sempurna Tarigan melakukan kekerasan kepada para pasien bersama empat orang pengelola lainnya. Di antaranya Jansen Marim Dedi Ginting (31), Pardamean Lingga (22), Saul Tarigan (35), dan Dian Samuel Ginting (28).

Berdasarkan keterangan pasien, ada sekitar lima orang yang menghembuskan napas terakhir karena aksi penyiksaan tersebut. Adanya indikasi pasien meninggal akibat dipukuli para pengelola panti diperkuat oleh penuturan seorang pasien. Dirinya mengatakan, ada lima orang yang meninggal dunia selama dirinya menjadi pasien rehabilitasi narkoba.

“Seingat saya yang meninggal dunia ada lima orang," akunya ditemani seorang pasien lainnya.

 

Para pasien mengaku bersyukur atas penggerebekan dan penutupan panti rehabilitasi tersebut. “Kami seperti hidup di neraka di panti tersebut. Kami disiksa, diperlakukan bak binatang," tutur seorang pasien.

Dia mengakui kalau perlakuan tersebut disampaikan kepada keluarga yang datang membesuk, maka mereka akan disiksa sekembalinya keluarga tadi. "Kami dipukuli dengan kejam. Sungguh biadab mereka. Kami merasa sangat bersyukur akhirnya polisi dan sejumlah pihak menggerebek tempat itu. Kami mengucapkan syukur dan terima kasih karena penderitaan kami akhirnya berahir,“ tambahnya.

Di lokasi penggerebekan, Sempurna membantah kalau yayasannya tidak memiliki izin. “Yayasan ini berdiri sejak tahun 2010. Izin kami ada dari Kemenkumham,” tegasnya saat dikonfirmasi.

Disinggung soal penganiayaan terhadap pasien, dia tidak menepis hal tersebut. “Kayak mana lah, pak. Yang kita tangani itu kan memang orang-orang yang stres,” ucapnya. Dia juga mengakui, biaya rehabilitasi pasien berkisar Rp500ribu-Rp1,5 juta per bulan, ada juga yang tidak bayar.

Pemkot Binjai pun menutup panti rehabilitasi tersebut. Polisi pun memasang garis kuning di lokasi untuk menyelidiki kasus penyiksaan pasien. Sementara itu, sekitar 130 pasien yang menderita berbagai macam penyakit diangkut menggunakan mobil Sat Pol PP dan BPBD Kota Binjai. Para pasien diangkut dan ditempatkan untuk sementara di Mess Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Binjai. Selanjutnya, para pasien sekaligus korban penganiayaan itu akan direhabilitasi Pemkot Binjai sesuai penyakit yang mereka derita. Para pengurus diperiksa dan dimintai keterangannya oleh polisi.

 

Sempurna Tarigan diamankan petugas berdasarkan laporan polisi : No.pol : LP/853 /XII/2016 /SPKT-A /Reskrim dengan pelapor Edi Saputra Perangin-Nangin. Sempurna Tarigan dinilai sebagai otak pelaku dan dikenakan sanksi sesuai pasal 170 yo 351 KUHPidana. Petugas terlebih dahulu mengamankan empat anggota atau petugas panti rehabilitasi.

Sementara itu, sebanyak 23 orang dari ratusan bekas pasien panti rehabilitasi disyahadatkan oleh H Ahmad Nasir selaku Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (F-KUB) Kota Binjai. Prosesi syahadat didampingi oleh Kepala BNNK Binjai AKBP Safwan Khayat, Kapolsek Binjai Kota Kompol RS Ritonga, serta Sekjen MUI Jafar Siddik.



Ahmad mengatakan bahwa mereka disyahadatkan karena terindikasi ada pemindahan keyakinan ke satu agama. “Mereka pertama masuk ke panti rehabilitasi disuruh untuk menghapal kitab Injil. Kalau enggak bisa menghapal, maka matanya akan dikasih balsem," ujarnya.[ng]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pasien Panti Rehabilitasi Ini Disiksa, Bagai Hidup Dalam Neraka"

Posting Komentar