Jumhur ulama berpendapat bahwa khusyu’, hanyalah sunnah,
tidak wajib dalam shalat. Pendapat lain mengatakan wajib dan syarat sah shalat.
Pendapat kedua ini dianggap syaz (ganjil) oleh ulama, bahkan Imam al-Nawawi
menegaskan dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab bahwa telah terjadi ijmak
tidak wajib (hanya bersifat anjuran saja) khusyu’ dalam shalat, yakni :
فَأَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ
الْخُشُوعِ وَالْخُضُوعِ فِي الصَّلَاةِ
Berikut ini beberapa kutipan dari kitab-kitab fiqh
mu’tabar mengenai hukum khusyu’ dalam shalat, yakni sebagai berikut
:
1. Dalam Majmu’
Syarah al-Muhazzab, Al-Nawawi mengatakan :
يُسْتَحَبُّ الْخُشُوعُ فِي الصَّلَاةِ
وَالْخُضُوعُ وَتَدَبُّرُ قِرَاءَتِهَا وَأَذْكَارِهَا وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا
وَالْإِعْرَاضُ عَنْ الْفِكْرِ فِيمَا لَا يَتَعَلَّقُ بِهَا فَإِنْ فَكَّرَ فِي
غَيْرِهَا وَأَكْثَرَ مِنْ الْفِكْرِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ لَكِنْ يُكْرَهُ
سَوَاءٌ كَانَ فِكْرُهُ فِي مُبَاحٍ أَوْ حَرَامٍ كَشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَدْ
قَدَّمْنَا حِكَايَةَ وَجْهٍ ضَعِيفٍ فِي فَصْلِ الْفِعْلِ مِنْ هَذَا الْبَابِ
أَنَّ الْفِكْرَ فِي حَدِيثِ النَّفْسِ إذَا كَثُرَ بَطَلَتْ الصَّلَاةُ وَهُوَ
شاذ مردود وقد نقل الاجماع علي أَنَّهَا
لَا تَبْطُلُ وَأَمَّا الْكَرَاهَةُ فَمُتَّفَقٌ عَلَيْهَا
“Dianjurkan khusyu’ dalam shalat, khuzhu’, memperhatikan
makna bacaannya, zikirnya dan hal-hal yang berhubungan dengan shalat serta
menjauhi pikiran-pikiran yang tidak berhubungan dengan shalat. Namun,
seandainya seseorang memikirkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan
shalat dan kebanyakan pikiran tidak membatalkan shalatnya, tetapi makruh, baik
pikirannya itu menganai hal yang mubah ataupun haram seperti minum khamar.
Sudah ada sebelumnya hikayah pendapat dha’if tentang masalah perbuatan pada bab
ini bahwa memikirkan tentang bisikan jiwa apabila banyak, maka batal shalatnya.
Pendapat ini syaz (ganjil) dan tertolak, padahal sungguh telah diriwayat
terjadi ijmak atas tidak batal shalat. Adapun makruh, maka disepakati atasnya.”[2]
2. Dalam Syarah
al-Mahalli ‘ala al-Minhaj disebutkan :
(وَ) يُسَنُّ (الْخُشُوعُ) قَالَ اللَّهُ
تَعَالَى: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ
خَاشِعُونَ (وَتَدَبُّرُ الْقِرَاءَةِ) أَيْ تَأَمُّلُهَا
“Disunnahkan khusyu’. Allah Ta’ala berfirman : “Sungguh
mendapat kemenanganlah orang-orang yang beriman dimana mereka dalam shalatnya
dalam keadaan khusyu’” dan disunnahkan juga memikirkan makna bacaannya.”[3]
3. Dalam halaman lain dari
kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab, Al-Nawawi mengatakan :
وَحَكَى أَصْحَابُنَا الْخُرَاسَانِيُّونَ
وَصَاحِبُ الْبَيَانِ عَنْ الشَّيْخِ أَبِي زَيْدٍ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ إذَا
انْتَهَى بِهِ مُدَافَعَةُ الْأَخْبَثَيْنِ إلَى أَنْ ذَهَبَ خُشُوعُهُ لَمْ
تَصِحَّ صَلَاتُهُ وَبِهِ جَزَمَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ وَهَذَا شَاذٌّ ضَعِيفٌ
وَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِنَا وَمَذَاهِبِ الْعُلَمَاءِ صِحَّةُ صَلَاتِهِ مَعَ
الْكَرَاهَةِ وَحَكَى الْقَاضِي عِيَاضٌ عن أهل الظاهر بطلانها
“Sahabat-sahabat kita dari Khurasan dan pengarang
al-Bayan telah menghikayah dari Syeikh Abu Zaid al-Marwazi, sesungguhnya apabila
seseorang sampai pada tahap sesak (kebelet) buang air besar dan kecil sehingga
dapat menghilangkan khusyu’nya, maka tidak sah shalatnya. Pendapat ini telah
ditetapkan oleh Qadhi Husain. Pendapat ini syaz (ganjil) dan dha’if. Pendapat
yang masyhur mazhab kita dan mazhab para ulama sah shalatnya serta makruh.
Qadhi ‘Iyadh telah menghikayah dari ahli dhahir yang mengatakan batal
shalatnya.[4]
4.
Imam al-Ghazali, salah seorang ulama sufi terkemuka dan juga fuqaha Syafi’iyah
lebih memilih pendapat yang mengatakan khusyu’ adalah wajib hukumnya. Diantara
dalil pegangan al-Ghazali adalah firman Allah Ta’ala berbunyi :
واقم الصلاة لذكرى
Artinya : Dirikanlah shalat untuk mengingatku. (Q.S.
Thaha : 14)
dan firman Allah berbunyi :
ولا تكن من الغافلين
Artinya : Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
(Q.S. al-A’raf : 205)
Dalam mengartikan dua ayat di atas, al-Ghazali mengatakan
dhahir perintah pada ayat pertama di atas adalah wajib, sedangkan lalai
merupakan lawan dari mengingat. Sedangkan untuk ayat yang kedua, beliau
mengatakan bahwa dhahir dari larangan pada ayat tersebut adalah untuk haram.[5] Menjawab kritikan apabila khusyu’ dan
hadir hati merupakan syarat sah shalat, maka ini menyalahi ijmak fuqaha, karena
mereka tidak pernah mensyaratkan kecuali hadir hati ketika takbiratul ihram,
al-Ghazali mengatakan pada halaman berikutnya :
فاعلم انه تقدم فى كتاب العلم ان الفقهاء لا
يتصرفون فى الباطن
ولا يشقون عن القلوب ولا
فى طريق الآخرة بل
يبنون ظاهر أحكام الدين على ظاهر اعمال الجوارح وظاهر الاعمال كاف لسقوط القتل
وتعزير السلطان فأما انه ينفع فى الآخرة فليس هذا من حدود الفقه على أنه لايمكن أن يدعى الاجماع
“Ketahuilah telah ada sebelumnya dalam kitab ilmu bahwa
fuqaha tidak mengurus hal-hal dalam bathin, tidak menjadi kesulitan bagi mereka
mengenai hati dan mengurus masalah-masalah akhirat, tetapi mereka membangun
dhahir hukum agama atas dhahir amalan anggota dhahir. Sedangkan dhahir
amalan memadai untuk menggugurkan hukum bunuh dan ta’zir sulthan. Adapun
hal-hal yang bermanfaat dengan akhirat, maka tidak termasuk dalam objek kajian
fiqh, lebih-lebih lagi dakwa ijmak dalam masalah ini tidaklah mungkin.”[6]
Bantahan al-Ghazali terhadap adanya ijmak tidak ada
kewajiban khusyu’ dalam shalat ini menurut beliau berdasarkan riwayat yang
menyebutkan sejumlah ulama yang berpendapat wajib khusyu’ dalam shalat, jadi
tidak semua ulama mengatakan hanya sunnah saja, sehingga dapat dikatakan
sebagai ijmak, beliau menyebut antara lain Sufyan al-Tsury, al-Hasan dan Muaz
bin Jabal. Namun perlu menjadi catatan bahwa pendapat al-Ghazali ini tidaklah
berlaku secara mutlaq, tetapi kewajiban khusyu’ ini disesuaikan dengan
kemampuan manusia, beliau mengatakan :
والحق الرجوع الى أدلة الشرع والاخبار والايات ظاهرة فى
هذا الشرط الا
ان مقام الفتوى فى التكليف الظاهر يتقيد بقدر قصور الخلق فلا يمكن ان يشترط على الناس احضار القلب
فى جميع الصلاة فان ذلك يعجز عنه كل البشر الا الاقلين واذا لم يكن اشتراط الاستيعاب للضرورة فلا مرد له الا ان يشترط ما ينطلق عليه الاسم ولو فى اللحظة الواحدة وأولى اللحظات به لحظة التكبيرفاقتصرنا على
التكليف بذلك
“Yang haq adalah kembali kepada dalil-dalil syara’,
hadits dan ayat-ayat yang dhahir pada ini syarat, tetapi sesungguhnya maqam
fatwa dalam hal taklif yang dhahir mesti dikaidkan dengan ukuran kelemahan
makhluq. Karena itu, tidak mungkin disyaratkan kepada manusia menghadirkan
hati pada semua perbuatan shalat, karena hal itu semua manusia tidak mampu
kecuali sedikit dari mereka. Apabila tidak disyaratkan meliputi semuanya karena
dharurat, maka tidak mengandung maksud kecuali disyaratkan yang terbenar nama
(nama khusyu’) atasnya, meskipun dalam sekejap saja dan sebaik-baik sekejap itu
adalah sekejap dalam takbir. Karena itu, kita khususkan taklif dengan cara
itu.”[7]
Dalil-dalil hanya sunah dan tidak wajib khusyu’ dalam
shalat.
a. Beberapa
nash syara’ yang mengkaidkan khusyu’ shalat dengan pahala atau ampunan dosa,
antara lain firman Allah Ta’ala berbunyi :
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ
فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)
Artinya : Sungguh mendapat kemenangan orang-orang yang
beriman, dimana dalam shalat mereka dalam keadaan khusyu’ (Al-Mukminun :
1-2)
dan hadits dari Zaid bin Khalid sesungguhnya Nabi SAW
bersabda :
من توضأ فأحسن وضوءه، ثم صلى ركعتين لا يسهو
فيهما غفر له ما تقدم من ذنبه
Artinya : Barangsiapa berwudhu’ dan membaguskan
wudhu’nya, kemudian shalat dua raka’at dimana dia tidak lalai pada kedua
rakaat itu, maka diampuni dosa-dosanya yang sudah lalu. (H.R. Abu Daud).[8]
b. Agama kita
memaafkan bisikan jiwa selama tidak dilaksanakan atau diucapkan. Dari Abu
Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda :
إنَّ الله يجاوز لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ
أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمُ بِهِ
Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala memaafkan bagi umatku
apa-apa yang dibisik oleh jiwanya selama tidak dilaksanakan atau diucapkan. (H.R.
Bukhari dan Muslim)[9]
c. Ijmak
ulama berdasarkan penjelasan Imam al-Nawawi dalam kitab Majmu’ Syarah
al-Muhazzab sebagaimana telah dikutip di awal tulisan ini (apabila penjelasan
adanya ijmak ini shahih).
Berdasarkan dalil-dalil ini, maka firman Allah Q.S.
Thaha : 14 dan Q.S. al-A’raf : 205 yang dijadikan sebagai dalil wajib khusyu’
dalam shalat oleh al-Ghazali harus dipahami sebagai perintah sunnah, bukan
wajib dan larangan makruh, bukan haram.
Oleh: Tgk
Alizar Usman
[3] Jalaluddin al-Mahalli, Syarah
al-Mahalli ‘ala al-Minhaj, (dicetak pada hamisy Qalyubi wa
‘Amirah), Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah, Indonesia, Juz. I, Hal. 173
0 Response to "Tidak Wajib Khusyu' dalam Shalat?"
Posting Komentar